Ketika Anda ingin bersedekah tetapi tidak mempunyai harta yang cukup, maka tebarkanlah senyum Anda kepada setiap orang yang Anda jumpai. Tentu saja, senyum Anda itu harus disertai dengan keikhlasan. Bibir Anda tersenyum, hatipun ikut dengannya. Maka hidup ini akan terasa damai. Yakinlah.
Ketika kita menginginkan suatu barang, maka kita harus membelinya terlebih dahulu.
Artinya, kita harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan barang. Bukan sebaliknya, kita menerima barang, baru kemudian menukarnya dengan uang. Hidup ini juga begitu, jika Anda ingin mendapatkan sesuatu yang ‘lebih’, maka berikanlah apa yang Anda miliki kepada orang lain. Kalau perlu, yang terbaiklah yang harus Anda berikan. bukan sekedar memberikan.
Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Demikianlah firman Allah dalam kitab suci-Nya.
Maka berdoalah!
Dengan menghadirkan hati! Karena doa yang akan dikabulkan adalah yang terbersit di dalam hati, bukan yang terucap di bibir.
Seorang anak majikan bertanya kepada supirnya pada saat supir itu baru pulang dari tengah kota,”Bagaimana keadaan lalu lintas di kota pak?”
“Oh, nyaman Mas!”jawab sang sopir. Segera si pemuda ini mengendarai mobilnya menuju pusat kota. Ternyata hampir sepanjang jalan menuju ke sana, lalu lintas sangat padat, bahkan macet. Butuh waktu hampir 2 jam hingga dia sampai di kota. Demikian pula ketika dia pulang,lebih macet lagi. Saking kesalnya dia panggil supir ayahnya,”Bagaimana sih Bapak ini, katanya lalu lintas nyaman. Tapi nyatanya macet banget begitu. Huh!” Dengan tenang si supir menjawab,”Saya selalu menikmati semua keadaan yang saya hadapi. Ketika macet, maka saya akan merasa nyaman dengan kondisi itu karena memang ini yang terjadi. Saya tidak bisa memaksa orang lain untuk tidak mengendarai mobil di jalan”.
Berhati-hatilah dengan hayalan Anda. Bisa jadi, pada suatu saat ini, hayalan itu akan menjadi kenyataan.
Oleh karena itu, berimajinasilah dengan hal-hal yang positif. Tumbuhkan rasa optimisme. Dan pandanglah semua kejadian di dunia ini dari sisi positif.
“Awas, kalau adik tidak mau mengerjakan pe-er, besok tidak mama kasih uang jajan, lho!”
“Kamu harus sholat. Kalau tidak, nanti masuk neraka!”
Dan masih banyak lagi, kalimat yang sering kita dengar, atau bahkan kita sendiri yang melakukannya. Mendidik dengan metode ‘intimidasi’. Apakah hal ini salah? Boleh jadi, bagi sebagian orang, akan mengatakan TIDAK. Tapi, bagi yang lainnya, termasuk saya, dengan sangat yakin bahwa metode ini keliru.
Ada cara lain untuk mencapai maksud yang sama. Misalnya, kalimat pertama di atas kita ganti menjadi,”Ada pe-er lho dik. Ayo kita kerjakan bareng-bareng. Nanti kalau udah selesai, mama kasih uang jajan deh untuk besok.” Atau kalimat yang kedua diubah,”Ayo kita sholat, biar Allah sayang sama kita. Jadi nanti doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah”.
Ada 2 (dua) hal yang dapat diambil manfaatnya dari pengubahan cara penyampaian perintah, yang tadinya bernada ancaman (intimidasi) menjadi ajakan. Pertama, anak atauorang yang kita ajak bicara akan menjadi lebih nyaman karena merasa dilibatkan bukan diperintah. Yang kedua, akan menimbulkan rangsangan cara berpikir yang positif kepada mereka.
Selamat mencoba.
Siang itu hari Jum’at pukul 11.30 WIB. Kebetulan adalah hari libur nasional. Pak Fulan sedang bersiap-siap untuk menunaikan sholat Jum’at di mesjid komplek, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Pak Fulan mempunyai 2 (dua) orang anak, yang pertama kelas 2 (dua) SD, dan adiknya masih sekolah TK. Ketika selesai mandi, Pak Fulan mengajak kedua anaknya untuk ikut sholat Jum’at, tapi secara serempak keduanya menolak, mungkin karena sedang asyik main game di komputer. Kejadian ini tentu saja membuat hati Pak Fulan sedih, bagaimana ya, cara mendidik anak dengan baik.
Setelah merapikan pakainnya, dan menunggu waktu untuk berangkat, Pak Fulan duduk di ruang tamu sambil membaca Al Qur’an. Eh, tiba-tiba anaknya yang besar, mendekat dan ikut menyimak bacaannya. Setelah beberapa saat mendengarkan lantunan ayat ayahnya, anaknya itu berkata,” Pa, saya mau ikut Jum’atan, sekarang mau berangkat.”
Alhamdulillah. Batin Pak Fulan. Rupanya, bacaan Al Qur’an ini telah menyejukkan hati anaknya, sekaligus memberikan hidayah baginya untuk ikut pergi ke mesjid. Dan lebih dari itu, ketika Pak Fulan menanyakan untuk kedua kalinya kepada anaknya yang kecil, ternyata si anak juga ingin ikut pergi bersama kakaknya.
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
Memang tidak bisa disalahkan, ketika bulan puasa datang, perilaku konsumtif orang-orang kita akan tambah subur. Betapa tidak. Sore tadi, saya, istri dan anak-anak, pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota Depok, Jawa Barat. Benar-benar penuh dengan manusia. Dan ketika anak saya minta makan di tempat makanan, maka tidak kelihatan sama sekali bahwa hari ini adalah salah satu hari di bulan puasa. Orang-orang makan seenaknya, bahkan sambil merokok pun jadi.
Banyak sudah, para ustadz yang mengingatkan kita, untuk tidak memperlakukan istimewa bulan puasa ini dalam hal konsumtifisme. Kurangi aktifitas-aktifitas yang memenuhi nafsu jasmani. Sebaliknya, perbanyaklah volume ruhiyahnya. Ini pesan mereka.
Mari kita berusaha untuk menjalankan nasehat para alim itu. Semoga.
Kemarin, joomla saya terkena deface. Sebenarnya, saya sudah tahu ada hole di joomla 1.5.5. Tapi, ah, paling-paling gak bakalan ikutan diserang. Eh ternyata, kena juga.
Akhirnya saya memutuskan untuk berpindah ke wordpress. Tapi, ugh …. Gagal melulu, waktu saya mencoba menginstalnya. Ahamdulillah berkat bantuan technical support dari Master Web Net, instalasi berjalan dengan mulus.
Maka terbitlah budiana dot net versi wordpress.